Kamis, 10 Januari 2008

Mengunjungi kota Banda Aceh setelah 2 tahun 3 bulan pasca tsunami (bagian 1)


Mendapat tawaran mengajar di Banda Aceh merupakan suatu karunia, karena sejak bertahun-tahun yang lalu saya sudah bermimpi ingin berkunjung ke Aceh. Menurut teman-teman yang pernah ditempatkan di wilayah Aceh, propinsi paling ujung utara barat di Indonesia ini daerahnya sangat indah, pantainya hijau kebiruan, diseling dengan tanaman hijau menghampar. Saya telah mengunjungi propinsi dari Medan sampai Manado dan Jayapura, justru propinsi Aceh yang belum mendapat kesempatan. Bisa dibayangkan betapa hati ini langsung berdebar, ingin segera sampai kesana.

Saya berangkat naik pesawat Boeing 737-400 Garuda GA 184 jam 9.00 wib dari bandara Sukarno Hatta, dan transit 30 menit di Medan. Perjalanan menyenangkan, cuaca cerah, pramugari dan awak kabin lainnya ramah.Terasa ada perbedaan setelah kecelakaan Garuda di Yogya bulan Maret 2006 yg lalu, saat check in penumpang harus menunjukkan kartu identitas, dan sebelum pesawat take off pemberitahuan agar semua hand phone dan barang elektronik lain agar dalam posisi off, dilakukan ber ulang-ulang. Demikian juga awak kabin memberi perhatian khusus dan menjelaskan pada penumpang yang duduk didekat jendela darurat, bagaimana prosedur membukanya jika ada kejadian darurat. Penumpang juga lebih tenang, dan berdoa agar penerbangan ini selamat sampai ke tujuan. Perjalanan dari Jakarta ke Medan memerlukan waktu 1 jam 59 menit, serta dari Medan ke Banda Aceh 45 menit.

Saya dijemput oleh tuan rumah, cuaca cukup panas, temperatur 30 derajat celsius dan langsung diajak check in di hotel, setelah itu langsung ke tempat pelatihan. Perjalanan dari airport Sultan Iskandar Muda ke kota Banda Aceh memerlukan waktu 20 menit. Kota Banda Aceh lumayan ramai, bahkan konon kata orang yang lahir dan besar di Aceh keramaian ini dua kali lipat dibanding sebelum terjadi tsunami, kota bersih, tak terlihat bekas dilanda tsunami.

krueng-sungai-aceh-yg-mengalir-ditengah-kota.jpgKrueng Aceh, sungai yang mengalir di tengah kota Banda Aceh.

Kota Banda Aceh banyak dialiri sungai, ada Krueng Aceh yang melewati tengah kota, Krueng Daroy, Krueng Doy, Krueng Nieng dan Krueng Lueng Paga (Krueng berarti sungai). Sungainya bersih, jernih dan mengalir cukup deras. Bisa dipahami bagaimana saat tsunami, air mengalir dari laut, dan melalui sungai-sungai yang membelah kota Banda Aceh.

Waktu mengajar saya masih besok siang, jadi saya minta diantar mengelilingi kota Banda Aceh. Setelah makan nasi bungkus khas masakan Aceh dari restoran ”Ujong Batee”, saya meluncur ke arah jl Cut Nyak Dien untuk melihat rumah peninggalan Cut Nyak Dien. rumah-peninggalan-cut-nyak-dien.jpg

Rumah Cut Nyak Dien.

Disini saya mendapat guide yang menjelaskan bagaimana riwayat rumah ini, yang dibangun kembali (direnovasi) sejak 25 tahun yang lalu. Pada saat tsunami, rumah Cut Nyak Dien ikut terkena air, dan air memasuki rumah sehingga banyak barang-barang yang rusak. Orang-orang dari kampung disekitarnya banyak mengungsi di atap rumah ini, sehingga atapnya perlu diganti. Pada saat perbaikan, tukang kayu didatangkan dari Sumedang, kota dimana jenazah Cut Nyak Dien dimakamkan. Rumah tempat tinggal Cut Nyak Dien berupa panggung, di bawah tempat menyimpan kayu bakar dan gudang, dinding terbuat dari kayu berukir dan atapnya rumbia. Setelah masuk melalui tangga yang cukup tinggi, sampailah kita ke teras tempat menjamu tamu, kemudian baru masuk ke ruang tamu.

ukiran-pintu.jpgUkiran Jepara.

Yang mengesankan, banyak ditemui ukiran Jepara yang terdapat pada meja kursi tamu, dan tempat tidur. Strategi Teuku Umar, awalnya selama 3 (tiga) tahun akrab dengan Belanda, sehingga beliau banyak mendapat hadiah dari orang Belanda berupa alat-alat rumah tangga.

ruang-rapat.jpgRuang rapat.

Ruang rapat yang cukup luas, diisi seperangkat meja kursi tinggi dan meja kursi tamu yang berukir Jepara.

rencong-aceh.jpgRencong Aceh.

Ada ruangan tempat menyimpan alat-alat perang, antara lain parang dan yang terkenal adalah rencong. Gambar di atas kiri adalah rencong Aceh.

sumur-yg-terletak-didalam-rumah.jpgTapak sumur, di rumah Cut Nyak Dien.

Yang benar-benar masih asli adalah tapak sumur, semula terletak di dalam rumah , hal ini agar tidak diracun. Sumur ini sekarang berada dipinggir rumah, berada dilantai satu, masih bagus dan airnya jernih.

kamar-tidur-cut-nyak-dien.jpgRuang tidur Cut Nyak Dien.

Kamar tidur Cut Nyak Dien, menggunakan kelambu dengan warna warni cerah, mirip seperti kebiasaan masyarakat Minang (yg terlihat di istana Pagaruyung).

Dari rumah Cut Nyak Dien, saya meneruskan perjalanan ke pantai Lok Nga melewati rumah-rumah yg dibangun atas bantuan negara donor. Sementara pengungsi yang tinggal di barak masih ada, kemungkinan menunggu rumah yang dibangun siap untuk ditempati. Menurut sopir yang asli kelahiran Aceh, daerah sini termasuk yang parah terkena tsunami. Namun di satu sisi banyak kejadian yang aneh, ada rumah bagus yang tak terkena dampaknya, hanya pagarnya saja yang rusak. Juga kerasnya gelombang air yang masuk ke kota berbeda tiap daerah, menghasilkan akibat yang berbeda pula. Sepintas tak terlihat lagi bahwa Banda Aceh pernah dilanda tsunami hebat.

Pantai Lok Nga termasuk daerah yang parah kerusakannya, asrama tentara yang terletak dipinggir pantai musnah hanya tinggal pusing-puingnya. Sedangkan pabrik Semen Andalas Indonesia (SAI) telah mulai direnovasi, walaupun bekas kerusakan masih terlihat.

pantai-lok-nga.jpg

Pantai Lok Nga.

pantai-lok-nga-yg-indah.jpgPantai Lok Nga yang indah

Saat siang hari itu, gelombang yang memecah pantai cukup besar. Saya membayangkan, apabila tiba-tiba terjadi air laut naik, memang penyelamatan cukup sulit, apalagi saat itu masyarakat belum mengenal tsunami.

Dari pantai Lok Nga perjalanan kembali ke kota Banda Aceh dan terus ke arah Ulee Lheule, melewati daerah perkampungan dimana ada kapal besar milik PLN yang nyelonong masuk kampung terbawa tsunami.

kapal-milik-pln-yg-terdampar-diperkampungan.jpg Kapal yang terdampar diperkampungan.

Saat ini kapal tetap berada ditengah perkampungan penduduk yang padat, konon kabarnya biaya membawa kapal ke tengah laut sangat mahal. Kami terus ke daerah Meuraxa, yang dekat dengan pantai Ulee Lheue, melewati masjid didekat laut yang tetap kokoh berdiri walau diterjang tsunami.

pantai-ulee-lheule.jpgPantai Ulee Lheule.

Di pantai Ulee Lheule sangat terasa bekas tsunami, wilayah pantai mundur dan ada perkampungan yang hilang. Terlihat banyak alat-alat berat menimbun batu-batu besar ke pinggir laut untuk mengurangi abrasi. Rumah-rumah hanya tinggal pondasinya saja.

Tidak ada komentar: